Selasa, 26 Mei 2009

Iklan Rokok Versus Jantung Sehat


Iklan Rokok dan Jantung Sehat:
 Jangan Anggap Enteng!

Anda pasti sering menyaksikan iklan rokok yang demikian gencar dan bombastis. "Kreteknya Lelaki", "Yang Penting Rasanya Bung !", "Kenikmatan Sejati", "Cita Rasa Sukses" atau kata-kata bombastis lainnya. Bahkan, kini iklan sigarete tidak hanya bombastis, tapi kadang lebih persuasif dan menyentuh --tentu saja menyentuh insting perokok. Tengok saja beberapa iklan rokok yang akhir-akhir ini kian populer. Long Beach demikian memberi kesan bahwa merokok itu begitu nikmat, seakan berjemur di tepi pantai sambil dipijit mojang ayu. Sementara Dji Sam Soe Filter dengan "Menembus Batas"-nya seolah mengesankan rokok dan perokok sebagai lambang kesetiakawanan dan solidaritas sosial.

Tak pelak lagi rokok kini telah menjadi konsumsi utama sebagian besar lelaki dan bahkan di kalangan perempuan pun sudah mulai menjadi tren baru di Indonesia. Ini tentu merupakan salah satu bukti keberhasilan publikasi dan gencarnya iklan rokok. Namun hal ini sekaligus menunjukkan kekalahan --atau paling tidak, ketakberdayaan-- kampanye kesehatan, terutama kesehatan jantung. Bukankah kita tahu bahwa rokok merupakan penyebab utama penyakit jantung ? Sementara penyakit jantung itu sendiri hingga kini masih menjadi pembunuh nomor wahid.

Memperhatikan kenyataan itu, maka gencarnya iklan rokok yang kini banyak menghiasi berbagai media, baik cetak maupun elektronik, agaknya perlu menjadi perhatian pemerintah, terutama departemen ataupun institusi terkait seperti Departemen Kesehatan, Yayasan Jantung Indonesia, IDI khususnya dokter spesialis jantung, dan pihak terkait lainnya. Hal ini penting karena peringatan pemerintah tentang bahaya rokok yang tertera dalam setiap bungkus rokok benar-benar tidak efektif untuk menangkal bahaya rokok itu.  Peringatan semacam itu tidak lebih sekadar buih di tengah banjir bandangnya iklan rokok yang demikian gencar.  Oleh karena itu perlu diantisipasi --atau paling tidak-- diimbangi dengan iklan kampanye kesehatan yang agresif, progresif, sekaligus persuasif.

 

Kampanye Jantung Sehat

Dua tahun yang lalu, Yayasan Jantung Indonesia (YJI) pernah  mencanangkan Panca Usaha Jatung Sehat. Program ini merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan masyarakat untuk menjaga kesehatan jantung. Upaya ini terjabarkan melalui kepanjangan kata SEHAT: Seimbang gizi, Enyahkan rokok, Hindari Stres, Awasi tekanan darah, dan Teratur berolahraga.

Secara konseptual, Panca Jantung Sehat itu merupakan upaya yang efektif untuk menjaga kesehatan jantung. Karena kelima poin itu secara medik ataupun empirik telah cukup terbukti kebenarannya. Namun secara faktual gregetnya kini "nyaris tak terdengar". Oleh karena itu, kampanye jantung sehat perlu terus disosialisasikan secara meluas dan kontinyu.

Keseimbangan gizi dan pola hidup sehat merupakan hal yang perlu dikampanyekan. Menurut laporan dalam Jurnal Medis Lancet yang terbit hari Jumat (2/5-98), "penyakit orang kaya" seperti penyakit jantung dan stroke kini justru lebih banyak membunuh penderitanya di negara sedang berkembang dibandingkan di negara-negara kaya.

Penyakit-penyakit itu juga lebih banyak menyebabkan kematian penduduk negara miskin dibandingkan penyakit-penyakit infeksi seperti malaria, ungkap ringkasan laporan dalam jurnal medis terbitan Inggris itu. Hal ini diduga salah satunya sebagai akibat kekurangan ataupun ketakseimbangan gizi.

Demikian pula penyebab penyakit jantung lainnya yang satu sama lain berkaitan. Penelitian lain mengungkapkan, stres (depresi) ternyata juga berhubungan dengan penyakit jantung, baik pada pria maupun wanita. Laporan dari Ohio State University mengatakan, penelitian ini adalah yang pertama yang mendemonstrasikan bahwa wanita yang mengalami depresi tidak mempunyai kecenderungan bisa meninggal akibat penyakit jantung dibanding wanita yang tidak terkena depresi.

Laporan yang dipublikasikan dalam Archives of Internal Medicine ini didasarkan pada data 5007 wanita dan 2886 pria yang terlibat dalam penelitian bertahun-tahun. Para responden ini tidak mempunyai penyakit jantung sejak 1982 sampai 1984 ketika penelitian dimulai, tetapi telah dievaluasi mengalami stress.

Mereka diikuti terus perkembangaannya sampai penelitian ini berakhir pada 1992. Penulis penelitian menyatakan, wanita yang menderita depresi memiliki 73 persen resiko lebih tinggi mengidap penyakit jantung dan kelainan jantung lainnya dibanding wanita yang tidak terkena depresi, tetapi resiko mereka tidak bertambah untuk meninggal akibat penyakit jantung.

Pria yang menderita depresi mendapat 71 persen resiko lebih tinggi untuk mendapat masalah penyakit jantung dan 2,34 kali mendapat kemungkinan meninggal akibat penyakit jantung dibanding pria yang tidak menderita depresi.

Secara keseluruhan hubungan antara depresi dan penyakit jantung muncul dan berhubungan dengan sejumlah faktor, termasuk fakta bahwa orang yang menderita depresi cenderung memiliki tekanan darah tinggi dan mempunyai banyak masalah lainnya dengan tidak teraturnya detak jantung akibat perilaku negatif, terutama karena kurangnya gerak fisik serta kebiasaan minum alkohol dan merokok.

Melihat berbagai kenyataan itu, agaknya merokok perlu mendapat perhatian dan penekanan tersendiri dalam upaya kampanye jantung sehat. Penekanan ini dianggap penting karena di samping rokok telah terbukti menjadi penyebab utama penyakit jantung juga karena adanya kenyataan bahwa promosi rokok demikian gencarnya.  

Meskipun pemerintah telah menetapkan PP No 81/1999 yang mengatur kadar nikotin maksimal 1,5 miligram dan tar 20 miligram per batang, bukan solusi untuk bisa terhindar dari berbagai serangan penyakit, terutama penyakit jantung. Sebab terbukti, penyakit jantung pembuluh darah itu berada di peringkat teratas dan hampir 25 persen kematian akibat sakit jantung pembuluh menyerang pasien yang perokok.

Oleh karena itu, tahun 2000 ini yang telah ditetapkan sebagai “World Heart Day” --yang puncaknya tepat pada hari jantung sedunia 24 September mendatang-- kampanye anti-rokok perlu dilakukan secara gencar. Kalau perlu, dibuat iklan yang bagus di berbagai media baik cetak maupun elektronik secara serempak. Pesan iklannya mungkin seperti iklan rokok A Mild: "Jantung, Jangan Anggap Enteng !" / sofian munawar asgart.

 

 

3 komentar:

  1. hehehe ... tulisan lama sihhh, tapi dari pada lupa mending dititipkan di blog saja:)

    BalasHapus
  2. jantung adalah organ vital. memommpa darah 24 jam. kelainan yang terjadi pada jantung terkadang tidak disadari. oleh sebab itu sering disebuut "silent killer"

    BalasHapus
  3. kiat-kiat tips rokok sehat bisa juga dibaca di blog k-4-s.info --> kiat tips (healthy smoking) rokok sehat bagi perokok
    Semoga tetap sehat, tetap semangat

    BalasHapus